Jumat, Februari 27, 2009

Perasaan Bersalah Saat Konflik Aceh

Seorang pensiunan tentara mendatangi seorang ulama untuk menceritakan kegelisahan hatinya. Ulama itu dengan senang hati menerimanya.

"Apa masalahnya saudaraku?", kata sang ulama dengan nada lemah lembut.

"Begini Aa. Dulu sekali, di masa awal pecahnya konflik dengan GAM, saya bertugas di Aceh. Suatu hari seorang wanita mendatangi saya. Rupanya dia itu tentara GAM yang sedang dikejar-kejar tentara kita.

Dia sangat ketakutan dan memohon agar saya menolong dia, kalau tidak dia akan mati dibunuh. Salahkah saya kalau menolong dia Aa, walaupun waktu itu dia pihak musuh?"

"Oh tentu tidak, Saudaraku. Kalau untuk menyelamatkan nyawa manusia, itu adalah perbuatan baik"

"Terima kasih Aa. Saya memang menolong dia. menyembunyikan dia di loteng rumah tempat saya tinggal".

"Bagus sekali perbuatanmu Saudaraku. Lalu kenapa kok hatimu gelisah?"

"Masalahnya Aa, selama dia bersembunyi, saya jadi tergoda. Wanita itu sangat berterima kasih atas pertolongan saya, jadi dia mau melakukan apa saja. Akhirnya kami melakukan hubungan badan Aa, dan itu berlangsung terus"

Aa terlihat merenung beberapa saat. "Hm...ini memang masalah moral yang pelik. Saat itu memang saat yang sulit. Keadaan membuat kalian berduaan dalam waktu lama.

Itu memang salah, tapi di lain pihak dia akan mati kalau kamu usir dari sana. Tapi Aa percaya perbuatan baikmu lah yang lebih besar dari pada kesalahanmu, dan kamu akan mendapat pahala darinya"

"Oh terima kasih Aa...lega sekali saya mendengarnya", kata mantan tentara itu, "Aa, bolehkah saya bertanya satu hal lagi?"

"Silahkan Saudaraku", sahut Aa.

"Apakah menurut Aa sebaiknya saya beritahu dia, kalau konflik Aceh sudah berakhir?"

Tidak ada komentar: