Senin, Agustus 30, 2010

Makan Malam Mewah di Kamar Hotel

"Apakah ada hal lain yang bisa saya bantu, Pak?" pelayan itu bertanya setelah menyiapkan makan malam mewah untuk sepasang tamu.

"Tidak, terima kasih," pria itu menjawab. "Itu saja."
Ketika pelayan itu hendak berbalik untuk pergi, dia melihat daster satin indah di tempat tidur. "Apa pun untuk istri Anda?" ia bertanya.

"Yeah! Itu ide yang bagus," kata orang itu. "Tolong bawakan kartu pos."

Selengkapnya: Makan Malam Mewah di Kamar Hotel

Sabtu, Agustus 21, 2010

Penyuluhan Dokter Gigi

Seorang dokter muda berparas cantik dari kota melakukan penyuluhan kesehatan di suatu Desa.

“Saya ingin tahu se berapa sering bapak2 menggosok gigi ? tanya sang dokter.

Warga 1: (agak malu-malu) “kalo saya sih cukup sekali sehari.”

Warga 2: “Payah! Saya 3 kali sehari!”

Dokter: “Bagaimana perhitungannya?”

Warga 2: “Pagi hari setelah sarapan, siang hari setelah makan, dan malam hari sebelum tidur.”

Warga 3: “Gitu aja sombong… saya dong 12 kali…”

dokter: “Wah… itu bagaimana ngitungnya?”

Warga 3: “Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember.”

Dokter: @#$%&^*!

Selengkapnya: Penyuluhan Dokter Gigi

Kamis, Agustus 19, 2010

Sinshe vs Tabib

Konon ada sepasang sahabat cina dan arab lagi kebingungan karena usaha mereka bangkrut. Setelah memutar keras otak mereka, mereka sepakat membuka pelayanan kesehatan. Maka si cina jadi sinshe, dan si arab menjadi tabib.

Setelah satu minggu praktek, si tabib tetap sepi pasien, namun si sinshe mulai kebanjiran pasien. Si tabib putar otak untuk melawan si sinshe.

Maka si tabib mengeluarkan jurus dengan memasang pengumuman di depan ruang prakteknya: “Jika Tidak Sembuh Uang Kembali Tiga Kali Lipat”

Taktik itu manjur, pasien lalu berdatangan ke si tabib. Giliran si sinshe sewot lalu mencari akal. “Haiyaaa, lumayan kalo owe purak-purak sakit dan tidak sembuh dapat uang lha…” (baca dengan logat cina ya). Lalu ia mendatangi si tabib.

Si Sinshe: “Haiyaaa, tolong owe. Owe punya sakit mati rasa. Owe tidak bisa lagi rasain rasa setiap makanan yang owe telan, haiyaa…”

Si Tabib: “Ana fikir itu gamfang ana sembuhkan.”

Lalu si tabib memanggil asistennya.

Si Tabib: “Hasaaannnn, cefat ente bawa kesini obat nomor 14.”

Secepat mungkin si asisten yang bernama Hasan membawa obat nomor 14 dan oleh si tabib diberikan kepada si sinshe. Dan si sinshe langsung menguyah sebelum menelan obat nomor 14 tersebut.

Si Sinshe: “Haiyaaa, ini bukan obat lhaaa, tapi ini tai ayam.”

Si Tabib: “Ente betul. Itu tai ayam. Berarti ente sudah sembuh dan tidak mati rasa lagi.”

Si sinshe pulang dengan kesal karena kalah akal. Lalu ia kembali memutar otak berpikir mencari akal untuk mengalahkan si tabib dan sekaligus dapat uang si tabib. Maka kali ini si sinse kembali pura-pura sakit lupa yang sangat kronis.

Si Sinshe: “Haiyaaaa tabib, owe sakit lupa parah sekali. Owe lupa semua peristiwa dan memori owe. Haiyaaa, tolong owe.”

Si Tabib: “Gamfang. Ana fasti tolong ente dan ente fasti sembuh. Obat ana mujarab sekali.”

Lalu seperti biasa si sinse memanggil si Hasan sang asisten.

Si Tabib: “Hasaaaaan, cefat ente bawa kemari obat nomor 14.”

Si Sinshe: “Haiyaaaa, owe tidak mau lagi makan tai ayaaaam. Haiyaaaaa… Owe tidak mau…”

Si Tabib: “Alhamdulillah, berarti ente sudah sembuh. Daya ingat ente ternyata sudah kembali.”

Tinggal si sinshe pulang sambil menggerutu.

Selengkapnya: Sinshe vs Tabib

Selasa, Agustus 17, 2010

Layanan Hotel

Dalam perjalanan ke luar kota, Budi terpaksa harus menginap di sebuah hotel kecil di sebuah kota.

Malam hari, karena tak tahan lagi akan rasa sepi dan dingin yang mencekam. Budi menelepon resepsionis di lantai bawah.

Budi: “Tolong kirim seorang PSK yang lumayan kemari…”

Istri pemilik hotel yang kebetulan bertugas di meja resepsionis sangat marah mendengar permintaan tamunya, dan dia menyuruh suaminya agar melempar Budi keluar dari hotel.

Tapi suaminya keberatan, katanya permintaan Budi toh adalah sesuatu yang alami dan tidak merugikan siapapun. Lagi pula, dia tak ingin kehilangan seorang pelanggan yang terbaik.

Istri: “Baik!!! Kalau kau tak mau, biar aku yang melemparnya!” kata si-istri sambil berlari ke atas.

Selama kurang lebih 20 menit, terdengar suara hingar bingar di atas. Tak lama setelah itu tampaklah Budi terengah-engah menjumpai si pemilik hotel seraya berkata…

Budi: “Boleh jadi perempuan tadi itu memang yang paling lumayan di kota ini. Tapi sayang dia agak bandel, sehingga saya terpaksa memperkosanya.

Suami: !#$%^&*()!

Selengkapnya: Layanan Hotel