Senin, November 05, 2007

Sisa-sisa Kekalahan Perancis

Sekembalinya dari Kejuaraan Piala Dunia 2002, pemain-pemain tim Perancis karena dirundung rasa malu yang amat sangat memutuskan untuk menyamar agar tidak dikenali orang.

Zizou (panggilan akrab Zidane) dengan samaran sebagai pastur (kepala dengan rambut jarang sudah mendukung) berjalan-jalan di tempat mejeng terkenal di Paris, Champs Elysees. Tiba-tiba nenek-nenek menyapa "Hai Zizou"

Kesal, Zizou segera bergegas pulang untuk merubah samarannya, kali ini sebagai syekh Arab. Kemudian ia kembali melanjutkan acara jalan-jalan di Champs Elysees. Untuk kali ke-dua ia berpapasan dengan nenek-nenek tadi yang kembali menyapa "Hai Zizou"

Masih dalam keadaan terheran-heran ia datangi si nenek dan bertanya dengan nada sopan "Maaf bagaimana anda dapat mengenali saya ?"

Dan nenek menjawab "Loe goblok kali ye, ini gue Barthez !!"

Selengkapnya: Sisa-sisa Kekalahan Perancis

Ikat Pinggang

Pada tahun 1960, ada sebuah lelucon yang beredar di Soviet.

Mao Ze Dong menelgram Khrushchev, "Kelaparan. Kirim gandum."


Khrushchev menjawab, "Kami sendiri kekurangan. Tidak bisa kirim. Kencangkan ikat pinggang."

Mao menelgram lagi, "Kirim ikat pinggang."

Selengkapnya: Ikat Pinggang

Tutut oh Tutut....

Dahulu rakyat Aceh pernah ingin memberi gelar pada Tutut. Dia diundang ke Aceh untuk menerima gelar tersebut. Namun saat upacara berlangsung Tutut tidak mau menerima gelar tersebut dan langsung pulang ke Jakarta. Usut punya usut ternyata gelar wanita untuk wanita Aceh adalah Cut Nya ... dan gelar buat Tutut adalah Cut Nya Tut.

Tutut yang kecewa berat berusaha menghubungi suaminya dan diterima oleh sekretaris Rukmana via telpon.

"Halo, bisa bicara dengan Pak Rukmana?" tanya Tutut.

"Dari siapa?" tanya sang sekretaris.

"Istrinya".... jawab Tutut.

"Oh tunggu sebentar Bu Ruk", minta sang sekretaris, dan langsung Tutut menutup telpon.


Tutut kembali kecewa. Ia pun langsung menghubungi Bina Graha.

"Selamat siang bisa bicara dengan pak Presiden?" tanyanya lewat telpon.

"Dari siapa Bu?' tanya sang ajudan.

"Dari putri sulungnya Pak", tegas Tutut dengan menyisakan nada kecewa berat, Sang ajudan pun segera menjawab "Mohon tunggu sebentar Bu Tut" dan langsung Tutut menutup telpon.


Akhirnya ia memilih langsung telpon ke handphonenya pak Presiden. Pak Presiden mengangkat teleponnya.
Selamat siang Bapak. Bagaimana Bapak memberi saya nama, masa saya di Aceh di panggil Cut Nya Tut. Sedangkan sekretaris suami saya memanggil saya Bu Ruk dan ajudan Bapak memanggil saya Bu Tut.
Bapak Presiden menjawab (Bayangkan nada dan logat Jawa ala Presiden Soeharto). "Ya sudah, Biar Ken ...Tut, bukan maksud mereka begitu kok, nduk.

Selengkapnya: Tutut oh Tutut....

Neraka Orang Indonesia

Seorang warga Indonesia meninggal dan menuju ke neraka. Di sana ia mendapatkan bahwa ada neraka yang berbeda-beda bagi tiap negara asal.

Pertama ia ke neraka orang Jerman dan berseru:

"Kalian ngapain saja di sini?"

Mereka menjawab: "Pertama-tama, kita didudukkan di atas kursi listrik selama satu jam. Lalu ada yang membaringkan kita di atas ranjang paku selama satu jam lagi. Lalu, setan Jerman muncul dan memecut kita sepanjang sisa hari."

Karena kedengarannya tidak menyenangkan, sang orang Indonesia menuju tempat lain. Ia coba melihat-lihat bagaimana keadaan di neraka AS dan neraka Rusia, dan banyak lagi. Ia mendapatkan bahwa kesemua neraka-neraka itu kurang-lebih mirip dengan neraka orang Jerman.

Akhirnya ia tiba di neraka orang Indonesia, dan melihat antrian panjang orang yang menunggu giliran untuk masuk.

Dengan tercengang ia bertanya: "Apa yang dilakukan disini?"

Ia memperoleh jawaban: "Pertama-tama, ada yang mendudukkan kita di atas kursi listrik selama satu jam. Lalu ada yang membaringkan kita di atas ranjang paku selama satu jam lagi. Lalu setan Indonesia muncul dan memecut kita selama sisa hari."

"Tapi itu persis sama dengan neraka-neraka yang lain.Kenapa dong begitu banyak orang ngantri untuk masuk sini?"

"Di sini pemeliharaan begitu buruknya, kursi listriknya nggak nyala, ada yang mencuri seluruh paku dari ranjang paku, dan setannya adalah mantan pegawai negeri, jadi ia cuma datang, tandatangan absen, lalu pergi ke kantin."

Selengkapnya: Neraka Orang Indonesia